Peneliti Sebut Pemerintah Pakai Label Hoaks Untuk Tutupi Kebenaran

Dan yang menarik adalah, ada hoaks yang dicap oleh pemerintah, dan kita tahu itu tidak benar, ujar Damar.

Ryan Kevin
Senin, 03 Oktober 2022 | 18:02 WIB
Peneliti Sebut Pemerintah Pakai Label Hoaks Untuk Tutupi Kebenaran
Ilustrasi hoaks, berita bohong (Pixabay)

Depok.suara.com - Menurut Indeks Represi Digital, Indonesia memiliki situasi lebih baik dibanding sejumlah tetangga dalam kebebasan di dunia internet. Namun, meski demikian situasi riil yang terjadi di Tanah Air diangggap mengkhawatirkan, dan butuh upaya ekstra untuk menjamin kebebasan berekspresi.

Penilaian itu disampaikan peneliti dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Diah Kusumaningrum, setelah melakukan kajian terhadap riset sejumlah peneliti. Empat negara yang menjadi obyek kajian adalah Kamboja, Myanmar, Thailand dan Vietnam.

“Kalau dilihat dari skor yang ada, sebenarnya Indonesia agak jauh ya dari mereka. Masih jauh lebih terbuka dibandingkan empat negara tersebut, tetapi saya kira ini bukan alasan untuk complaisant,” kata Diah mengutip dari VOA, Jumat (30/9/2022).

Diah memaparkan kajiannya dalam diskusi Represi Digital dengan Dalih "Melawan Hoaks": Pengalaman Empat Negara ASEAN". Diskusi ini diselenggarakan Pusat Studi Agama dan Demokrasi, Universitas Paramadina bekerja sama dengan Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) UGM.

Baca Juga:Kutuk Aksi Brutal Aparat di Tragedi Kanjuruhan, Arema Tikungan Blok M: Mereka Paling Bertanggungjawab, Harus Dipidana!

Indonesia memang cukup baik dalam indek represi digital. Namun, ada sejumlah kasus di dalam negeri, yang membuat sejumlah pihak menilai ada potensi pengekangan cukup kuat berdasar aturan hukum yang ada, terutama dengan berlakunya UU ITE.

Diah menegaskan, dengan skor yang sebenarnya cukup baik dalam indeks represi digital, banyak pihak di Indonesia merasa represi digital di Indonesia cukup terasa.

“Itu rasanya sudah segitu menggerahkan, sebegitu mencekik. Bayangkan kalau nanti sampai ke tingkat yang dirasakan oleh saudara-saudara kita di Kamboja, Myanmar Thailand dan Vietnam. Kalau tidak dihadang dari sekarang, itu akan jauh lebih susah nanti hidup kita dan perlawanan kita,” tegasnya.

Secara rinci, Diah memaparkan bahwa di Kamboja, konten digital yang diberi label sebagai hoaks atau berita bohong adalah yang dianggap membahayakan keamanan nasional, kesehatan, keselamatan, keuangan publik, dan hubungan diplomatik. Bisa juga dinilai membahayakan hasil pemilu nasional, kohesi sosial, kepercayaan publik terhadap pemerintah, dan lembaga negara.

Sedangkan di Myanmar, label hoaks disematkan pada informasi, cuitan, foto dan sejenisnya yang dianggap mengancam keamanan nasional, mendisrupsi supremasi militer atau menghina pejabat pemerintahan, serta menyabotase hubungan luar negeri.

Baca Juga:Ini Data Terbaru Korban Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Malang Versi Pemerintah

Sementara di Thailand, hoaks dikenakan pada konten yang menimbulkan kepanikan publik, mengganggu keselamatan perekonomian dan infrastruktur publik, mendorong perpecahan nasional, membahayakan reputasi tradisi dan lembaga negara khususnya monarki. 

Lalu, di Vietnam, label ini diberikan jika mencerminkan oposisi terhadap negara, mengancam keamanan nasional, ketertiban umum dan keselamatan. Ada aturan khusus di masa pandemi, hoaks juga diberikan kepada berita yang dianggap menyebarkan ketakutan seputar pandemi, dan mendorong warga melakukan hal-hal yang ujungnya merugikan negara.

Enam Bentuk Represi

Berbicara dalam diskusi yang sama, Damar Juniarto, Direktur Eksekutif SAFEnet mencatat setidaknya enam bentuk represi digital di Indonesia.

“Pertama adalah ada cap hoaks yang setiap kali muncul dari pemerintah. Yang kedua ada upaya pemidanaan atau disidang dan dipenjara. yang ketiga ada pemutusan internet atau diputus akses internetnya. Yang keempat adalah ditertibkan oleh polisi. Yang kelima, ditanam bukti palsu lewat peretasan, dan yang keenam ada perintah penghapusan ke platform,” bebernya.

Dalam konteks cap hoaks yang diterapkan pemerintah, Damar menguraikan sudah cukup lama Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) menyematkan segmen tertentu di dalam lamannya, di mana cap hoaks diberikan.

“Dan yang menarik adalah, ada hoaks yang dicap oleh pemerintah, dan kita tahu itu tidak benar,” ujar Damar.

Damar memberi contoh, cap hoaks yang tidak tepat adalah terhadap postingan aktivis pembela Papua, Veronica Koman, tentang dua orang pengantar makanan untuk mahasiswa Papua.

“Dan kita tahu, tidak lama kemudian Kominfo meminta maaf karena dia keliru dalam melakukan pencapan hoaks ini. Tetapi dampak dari cap tersebut, sangat panjang dan saya rasa itu awal persoalan pemadaman internet di Papua,” ujarnya lagi.

Damar juga menyebut, cap hoaks keliru diberikan terhadap laporan jurnalistik dari Project Multatuli, yang mengangkat kasus kekerasan seksual yang tidak diproses oleh Polres Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan. Cap hoaks ini, diberikan sendiri oleh Humas Polres Luwu Timur, dengan menyatakan laporan Project Multatuli itu tidak benar.

“Tidak lupa saya harus mengatakan contoh-contoh lain, misalnya cap hoaks pada berita di Republika, lalu juga ada cap hoaks pada Wadas melawan, saat kelompok petani di Jawa Tengah menyampaikan adanya upaya intimidasi petani, yang diperiksa oleh polisi di sana,” tambah Damar.

Buruknya kemudian, cap hoaks tidak hanya datang dari Kominfo, tetapi bisa dilakukan oleh hampir seluruh lembaga pemerintah. Perlu upaya lebih dari masyarakat sipil, untuk menetang tindakan semacam ini ke depan.

“Misalnya pada kasus Veronica Koman itu didorong oleh teman-teman Aliansi Jurnalis Independen. Lalu pada laporan teman-teman Project Multatuli, yang bersuara adalah Komite Keselamatan Jurnalis,” tandasnya.

Ragam

Terkini

Eiichiro Oda ternyata sudah memperkenalkan beberapa dewa yang ada di dunia One Piece dalam ceritanya. Disadari atau tidak ternyata Oda sudah memperkenalkan berbagai dewa-dewa tersebut bahkan sejak awal serinya.

Entertainment | 13:24 WIB

Kamaruddin Simanjuntak menyatakan siap membayar pengacara agar Ferdy Sambo tidak dihukum mati.

News | 13:17 WIB

Gita Savitri mendapat kecaman karena menghina warganet dengan stunting.

Lifestyle | 12:58 WIB

Prabowo Subianto mengaku pecinta sepak bola tetapi tidak mau menonton Piala Dunia.

News | 11:55 WIB

Song Joong Ki dalam bela sungkawanya untuk korban gempa Cianjur yang mengjak para fans untuk berdoa sejenak.

Lifestyle | 23:58 WIB

Warganet mengkritisi sikap relawan Jokowi yang menyisakan tumpukan sampah di GBK.

News | 21:40 WIB

Deddy Corbuzier kini dituding suka bertanya soal keperawanan kepada bintang tamu.

Entertainment | 19:58 WIB

Raffi Ahmad menyebut harga tiket Piala Dunia 2022 bisa mencapai Rp50 juta.

Entertainment | 19:20 WIB

Gita Savitri disebut mendukung langkah Jerman menolak larangan kampanye LGBT

Lifestyle | 18:19 WIB

Presiden Jokowi melambaikan tangan ketika relawan menyerukan 3 periode.

News | 17:02 WIB

korban FDR mengaku ditampar, ditendang hingga dijambak bahkan diancam untuk dibunuh ketika bertengkar dengan oknum polisi berinisial DM

Metropolitan | 07:20 WIB

Kapolsek Palmerah AKP Dodi Abdulrohim mengatakan pihaknya akan melakukan pengawasan yang lebih ketat kepada para anggotanya.

Metropolitan | 11:15 WIB

Istilah Miras Minuman Rasul tersebar dan berbuntut panjang. Berikut kronologi istilah miras minuman rasul yang bikin sejumlah komedian dipolisikan.

Metropolitan | 18:30 WIB

Bocah SD di Malang yang menjadi korban bullying tak lama lagi akan mendapat keadilan. Sebab kakak kelas yang jadi pelaku akhirnya diperiksa kepolisian.

Metropolitan | 16:36 WIB

Tiga korban meninggal dunia dalam kecelakaan di jalan tol itu merupakan penumpang mobil Toyota Alphard

Metropolitan | 12:38 WIB

Denise Chariesta sengaja menghapus setiap pesan pentingnya pada RD, karena takut ketahuan istri RD.

Gosip | 21:10 WIB

Stephanie Poetri pulang kampung sekaligus akan manggung di Indonesia pada Desember mendatang.

Gosip | 20:45 WIB

Saat itu, Kiky Saputri ternyata merugi Rp2,5 miliar akibat aktivitas di dunia trading.

Gosip | 20:43 WIB

Istri RD ternyata sempat membahas soal foto Denise Chariesta dengan sang suami, tidak hanya sekali.

Gosip | 20:22 WIB

Song Joong Ki kembali menyapa penggemar Indonesia. Jika sebelumnya hadir di produk skincare, maka kini ia tampil sebagai brand ambassador e-commerce.

Gosip | 20:20 WIB
Tampilkan lebih banyak